Boleh Ganti Sistem Suspensi dari Double Shock ke Monoshock atau Sebaliknya, Asal…

Boleh Ganti Sistem Suspensi
dari Double Shock ke Monoshock atau Sebaliknya, Asal…

11 January 2021

 

Kita mengenal dua model sistem peredam kejut belakang yang jamak ditemukan pada motor secara umum. Pertama adalah monoshock, dan yang kedua adalah dualshock.

Menurut Wuddy Sumanja atau lebih dikenal dengan panggilan Udek, mantan mekanik road race tim pabrikan Suzuki dan Yamaha tahun 1990-an yang sejak 2013 lalu menjalankan bisnis toko dan bengkel modifikasi WS Udek Oto, kedua model suspensi belakang  ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“Suspensi belakang dualshock punya kelebihan menopang beban lebih berat. Itu karena titik beban merata di tiap sisi rangka,” kata Udek. “Itulah kenapa motor bebek, atau motor laki terutama yang model touring atau cruiser, dan bukan sport, selalu memakai dualshock. Karena itu tadi, dirancang untuk menopang beban berat.”

Namun demikian dualshock juga punya kekurangan dalam hal manuver. “Ketika melibas tikungan, misalnya, beban masing-masing shockbreaker (kiri dan kanan) berbeda, sehingga kurang stabil seperti motor dengan monoshock yang letaknya di tengah, seperti motor sport atau balap.”




Jawaban ini sekaligus menjelaskan kelebihan monoshock yang stabil saat menikung, handling lebih baik. “Sedangkan kekurangan monoshock, selain umur pakai lebih pendek, juga kurang maksimal membawa beban berat.”

Lebih lanjut soal suspensi monoshock dan dualshock ini, sekarang ini banyak penggemar motor custom yang mengubah suspensi monoshock jadi double shock, atau sebaliknya. Apakah hal ini diperbolehkan?

Menurut Udek, tentu hukumnya boleh-boleh saja karena jika berbicara modifikasi atau custom, pemilihan monoshock atau dualshock biasanya menyesuaikan konsep modifikasinya.

“Kalau misalnya konsep yang dipakai classic atau retro, ya memang cocoknya pakai dualshock meskipun yang dipakai basis adalah motor seperti Yamaha Scorpio atau Honda Megapro FI. Sebaliknya kalau konsep yang diusung seperti sportbike modern, maka model suspensi yang cocok tentu monoshock,” jelas Udek sambil menambahkan ada beberapa syarat yang harus diperhatikan, agar rombakan model suspensi ini tidak sampai mengurangi fungsinya.

“Untuk itu hitungannya harus benar atau paling tidak mendekati lah. Misal hitungan derajat kemiringan shockbreaker yang dipasang. Dan ini juga tergantung panjang swing arm yang dipakai.”

Saat ditanya ketentuan sudut kemiringan shockbreaker ini, Udek hanya memberikan angka kisaran saja.

“Ya, antara 12 sampai 30 derajat sudut kemiringannya. Agak susah hitungnya karena ini tergantung juga dengan shockbreaker yang dipakai dan kebutuhan motor mau dibuat apa.”